Assalamu'alaikum wr.wb.
Ba'da salam, tak lupa saya selalu mengajak untuk mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad dan hidayahnya kepada kita semua. Sehingga pada kesempatan ini kita masih diberikan kesehatan lahir dan batin. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, shahabat,tabi'it-tabi'in dan para pengikutnya yang istiqomah hingga akhir jaman. Amin.
Pada kesempatan ini saya akan menceritakan sebuah kisah nyata dari Negeri Arab. Cerita ini saya peroleh dari ustadz yang mendapatkan milis dari temannya di Arab. Bagaimanakah ceritanya? marilah kita simak bersama-sama . . .
###
Di Negeri arab ada seorang laki-laki paruh baya, mapan, kaya raya, rakfat namanya. Suatu hari di tengah aktifitas hariannya dia merasakan sakit yang begitu hebatnya, kemudian dia berusaha mendapatkan kesembuhan dengan berobat ke dokter. Vonis dari dokter adalah rakfat mengidap penyakit "KANKER HATI". Di arab sudah semua rumah sakit ia datangi. Berbagai macam obat dari dokter penjuru negeri arab sudah ia minum. Namun ada apa gerangan? Rakfatpun tak kunjung sembuh. Rakfat hampir putus asa, hingga ada seorang laki-laki mendatanginya dan laki-laki itu mengatakan "pergilah ke negeri china, di sana ada obat mujarab dan dokter spesialis. Siapa tahu kamu bisa sembuh setelah berobat dari sana". Tanpa berpikir panjang, rakfat pun menyiapkan segala sesuatunya untuk pergi ke china. Dia pergi naik pesawat,setelah sampai china kemudian dicarilah rumah sakit dan nama dokter yang katanya hebat itu. Akhirnya tak lama kemudian ketemulah Rumah Sakit dam dokter yang dimaksud. Demikian percakapan sekilas antara dokter dengan rakfat ...
###
Rakfat : Alahmdulillah akhirnya saya menemukan anda dok. Saya sudah berobat di semua rumah sakit di negeri saya, namun panyakit saya tak kunjung sembuh.
dokter : memangnya anda sakit apa? coba saya periksa dulu ...
Rakfat : Silahkan dok, berapa pun biayanya nanti akan saya bayar.
dokter : Wah, benar!!! anda menderita sakit kanker hati, dan ini sudah sangat parah. Anda harus segera dioperasi. Bagaimana, apakah anda sudah siap?
Rakfat : Wah!!! operasi dok? Oke lah kalau memang harus operasi, saya siap. Eh, tapi ngomong-omong berapa prosentase kesembuhan saya dok? ada jaminan untuk sembuh ga?
dokter : ya... bisa Fifty-fifty!!! Kalau berhasil ya anda sembuh, tapi kalau gagal anda bisa mati. Bagaimana?
rakfat : kalau begitu saya mau balik ke arab dulu, setelah selesai urusannya saya akan segera kembali kesini. Babaimana?
dokter : wah, anda sudah terlalu parah. waktu anda tinggal sedikit anda harus segera dioperasi.
rakfat : ya udah, kira-kira umur saya berapa lama lagi dok? 1 bulan atau berapa?
dokter : wah, waktu anda hanya sekitar 2 hari lagi. Jika terlambat bisa fatal akibatnya.
rakfat : okelah kalau begitu, saya akan pulang 2 hari. kemudian setelah selesai urusan saya akan segera kembali kesini untuk menjalani operasi.
dan apa kira-kira keputusan dokter? dokter pun mengijinkan rakfat untuk pulang terlebih dahulu.
dokter : Baiklah, silahkan pulang dulu.
###
Rakfat pun akhirnya tiba di negeri arab, apa yang dia lakukan? Dia silaturahmi kepada keluarga, sanak saudara, teman, sahabat dan semua orang yang pernah dia kenal. Rakfat mengunjunginya satu persatu hingga semua mendapat jatah untuk didatangi. Di setiap orang yang ia datangi, rakfat selalu mengatakan bahwa: "Aku sekarang ini sudah tidak punya waktu banyak lagi,dokter memvonis bahwa aku mengidap kanker hati dan umurku tinggal dua hari ini. Semua yang kumiliki kini sudah tidak ada gunanya lagi. Maka dari itu aku memohon maaf kepada anda atas segala kesalahanku selama ini, baik yang saya sengaja maupun yang tidak saya sengaja".
Semua orang yang dia kunjungi merasakan kesihan dan akhirnya memberi maaf dan mendoakan rakfat agar sembuh.
###
Pada hari ke dua rakfat selesai berkunjung kesemua orang, kondisinya pun semakin lemah. Dia berjalan dipapah masuk mobil oleh supirnya, setelah masuk mobil dan sopir siap berangkat ke bandara untuk terbang ke china. Namun rakfat mencegah sopirnya, dari dalam mobil rakfat melihat seorang ibu kelihatan lusuh sedang sibuk mencari sesuatu. Kemudian rakfat keluar dari mobilnya dan mendatangi ibu tadi dan bertanya, "Wahai ibu, apa yang sedang anda lakukan disini?". Ibu itu menjawab:"Oh, anak muda. Alhamdulillah, Allah menunjukkan tempat dimana ada rizki buatku dan anak-anakku di rumah. Hari ini saya akan pesta dengan memasak daging yang aku peroleh. Anak-anakku pasti senang. Rakfat pun terdiam, dan berkata dalam hati :"sisa makanan sampah, tulang-belulang sisa daging yang dipendam mau dibuat pesta? untuk memberi makan anaknya? Ya Allah, apa yang terjadi di sini? sungguh sangat menyedihkan.
###
Rakfat bergegas masuk sebuah swalayan dekat ibu itu mengumpulkan sisi tulang-belulang dan sampah daging. Ditemuilah salah satu pelayan, rakfat berkata: "Wahai pelayan aku membeli daging 1 kg setiap hari selama setahun aku bayar kontan sekarang. Oh, sebentar 1 kg tidak cukup. Kalau begitu 2 kg selama satu tahun aku bayar kontan. Setelah ini berikan kepada ibu itu setiap hari 2 kg selama 1 tahun".
Pelayanpun menjawab: "Baik Pak, terima kasih banyak".
Rakfat keluar dari swalayan sambil membawa daging 2kg dan diberikan ibu tadi untuk dimasak hari ini. Ibu tadi berkata: "Alhamdulillah, Ya Allah ada rizki buatku hari ini." dan Ibu itu pun berdo'a untuk pemuda yang membelikan daging (rakfat): "Ya Allah semoga engkau berikan pemuda ini rizki yang cukup, umur yang panjang, kesehatan, keselamatan, ... " dan masih panjang sekali do'a yang dipanjatkan ibu tadi untuk rakfat.
###
Mendengarkan do'a ibu tadi, semangat hidup rakfat bangkit lagi, tubuhnya menjadi tidak lemas lagi. Setelah itu rakfat pamit, "karena masih ada urusan,maka saya mohon pamit ya bu."
Rakfat kembali masuk mobil dan siap ke bandara untuk terbang ke china. Setelah sampai china dan menemui dokternya.
Rakfat : Dokter, sekarang saya sudah siap 100% untuk operasi!
dokter : Oke, kita lakukan general cek up dulu sebelum melakukan operasi.
dan selang beberapa menit, keluarlah dokter dan membawa hasilnya.
"WOW!!! Sungguh ANEH TAPI NYATA!!! LUAR BIASA!!!
Belum pernah terjadi seperti sebelumnya!" demikian kata dokter.
rakfatpun bertanya, "ada apa dok?"
dokter menjawab : "Sungguh ANEH TAPI NYATA, anda dinyatakan SEMBUH TOTAL dari penyakit KANKER HATI".
Dokterpun masih menyimpan berjuta pertanyaan, mengapa bisa demikian?
"Apa yang anda lakukan selama 2 hari di negeri anda sehingga anda bisa sembuh total?" tanya dokter dengan heran.
rakfat: "Apa dok!!! Saya sembuh total??? Alhamdulillah...
Terima kasih Ya Allah ... (sambil sujud syukur)
Rakfat mulai menceritakan, bahwa selama 2 hari di arab dia telah silaturahmi kepada semua orang yang dia kenal, dia minta maaf dan di depan sebuah swalayan dia memberikan daging kepada ibu 2 kg stiap hari selama 1 tahun dan ia bayar kontan.
###
Demikian, cerita yang saya peroleh dari seorang ustadz. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa di atas. Semoga kita semua termasuk orang yang dilindungi Allah SWT, selalu diberikan innayah dan hidayahNya. Amin.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Sabtu, 06 Maret 2010
Selasa, 22 Desember 2009
Cinta Sang Duta Pertama
Kupunya sekeping hati yang ditebari cinta
Karena cinta dia rela menghadapi bertubi derita
Cinta merebut dirimu dengan pengorbanan jiwa
Kan kutebus pula dengan sesuatu diatas jiwa
(Ekspresi cinta para sahabat untuk Al-Musthafa, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
eramuslim - Ia, bagaikan mawar di rerimbunan suku Quraisy. Wajahnya tampan, begitu masyhur di udara Makkah. Cemerlang pemikirannya bukan lagi rahasia, ia sosok cerdas yang menjadi kebanggaan. Tak sampai di situ, ia anak dari seorang bangsawan dengan gemerlap kekayaan. Sejarah menorehkan anugerah panggilan terhadapnya "Penduduk Makkah yang sangat mempesona". Ia tumbuh menjadi anak kesayangan sang ibunda, anak manja begitu para karibnya menyebut sang pemuda. Namun, apakah mungkin jika selanjutnya kisah kehidupan sang pemuda menjadi sebuah legenda keimanan yang begitu agung gaungnya? Allah sebaik-baik penentu lika-liku kehidupan seseorang. Mush'ab bin Umair.
***
Bukit Shafa, Makkah, senja hari.
Mush'ab gelisah menyusuri setapak jalanan. Sesekali ia menengok kiri dan kanan, memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Sampai di rumah Arqam bin Arqam, ia berhenti. Sudah dibulatkan tekadnya untuk menjumpai seseorang yang kelak akan dicinta sampai nafas terhembus dari raga. Perlahan Mush'ab membuka pintu, dan di sana telah duduk sosok yang selama ini hanya mampu ia dengar. Ruangan begitu hening, sementara gemerisik pepasir sahara terdengar mengalun dihantarkan angin. Sesaat kemudian Mush'ab terpaku, lantunan syair syahdu yang begitu indah menyapa merdu gendang telinganya. Mush'ab terbuai, hatinya melembut. Sejenak, Mush'ab serasa mengangkasa, terpesona. "Apakah itu, duhai Muhammad?" tanya Mush'ab setelah bibir manis Rasulullah tak lagi bersuara. "Tadi, adalah Al-Qur'an, firman Allah yang maha benar." "Ya Muhammad, bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam agama yang tengah engkau bawa?"
Saat itu betapa berbunga hati manusia pembawa cahaya pada dunia. Pertanyaan yang dilontarkan Mush'ab begitu menggembirakan Al-Musthafa. Akan bertambah pengikutnya satu kepala. Senyuman sang Penerang mengembang, dengan mantap ia bertutur, "Bersaksilah bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah benar utusanNya."
Dan beberapa pasang mata menyaksikan sumpah setia sang pemuda berparas jelita. Mush'ab bersyahadat. Mush'ab nampak berbeda, sebuah keharuan menjelma. Dadanya turun naik, Nabi bersegera menujunya. Tangan Al-Musthafa terulur ke dada Mush'ab, meredam gejolak cinta yang kian berdentang. Dan ajaib lubuk hatinya kini damai. Keduanya kini berpandangan disaksikan langit yang juga bersuka cita. Mush'ab bin Umair, pemuda gagah keturunan seorang bangsawan Quraisy kini sempurna menjadi seorang muslim.
Sejarah mengisahkan betapa Al-Amin mempercayakan kepadanya sebuah emban. Mush'ab dipilih menjadi seorang utusan. Seorang duta pertama dalam Islam. Ada amanah indah yang harus segera ia tunaikan. Tugasnya mengajarkan tentang Islam kepada kaum Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di Aqabah. Sebuah misi yang tentu saja tidak mudah. Saat itu telah 12 orang kaum Anshar yang beriman.
Mush'ab juga mengemban misi yang lain yaitu mengajak kabilah lain untuk masuk Islam dan mempersiapkan penyambutan hijrah Rasulullah. Ia sungguh tahu betapa berat amanah itu ditanggung. Namun, titah ini terucap dari bibir manis manusia yang ia cinta, yang dipercayainya dan telah melimpahi hatinya cahaya terang benderang. Berbekal cinta, ia menjadi seorang duta kekasihnya, ke Yastrib.
***
Mush'ab memang pemuda kebanggaan, ia berhasil merengkuh hati para penduduk Madinah. Sifat yang ditampakkannya, kejujuran, kezuhudan dan ketulusan telah mengikat banyak perhatian. Ia begitu memahami tugasnya dengan baik. Ia datangi kabilah-kabilah yang bertebaran di Madinah. Setiap rumah, tempat pertemuan, penduduk laki-laki, perempuan, tak luput dari seru syahdu sang Pemuda. Namun tentu bukan tidak ada rintang.
Tak lama berselang, Allah yang Maha Akbar memperlihatkan hasil sebuah usaha sungguh-sungguh Mush'ab bin Umair. Berduyun-duyun manusia berikrar mengesakan Allah dan mengakui Rasulullah sebagai utusan Allah. Jika saat ia pergi ada 12 orang golongan kaum Anshar yang beriman, maka pada musim haji selanjutnya umat muslim Madinah mengirim perwakilan sebanyak 70 orang laki-laki dan 2 orang perempuan ke Makkah untuk menjumpai Nabi yang Ummi. Madinah semarak dengan cahaya.
Duta pertama pilihan Al-Musthafa sukses tanpa tandingan. Sungguh sebuah keberhasilan yang gemilang.
Di Madinah, sebuah persembahan cinta disematkan untuk Mush'ab bin Umair, karena jasa tak terbilangnya sebagai duta. Dari bibir para penduduk Madinah, setiap guru agama akan disapa sebagai "Al-Mush'ab" bukan lagi al-Ustadz.
***
Kemilau kehidupan Mush'ab berakhir di sebuah bukit. Akhir kehidupannya menjelma semerbak kisah yang menjadi pelengkap sejarah kebanggaan kaum Muslimin. Siapkan hatimu, dan petik banyak hikmah, agar engkau meneladani ekspresi kecintaannya kepada Nabi. Inilah kisah kepergiannya:
Bukit Uhud dalam kecamuk perang.
Mush'ab tampil pemberani di sana. Ketika pasukan muslim lengah dan tercerai berai, dan Rasulullah menjadi sasaran setiap kepala pasukan Quraisy, Mush'ab menjelma sebenar-benar pencinta. Ia mengangkat panji itu setinggi-tingginya dan menggemakan takbir ke jauh angkasa. Tujuannya satu, para kafir itu beralih kepada dirinya. Ia memberi isyarat kepada Rasulullah untuk segera pergi. Mush'ab mengerahkan utuh tenaganya. Melompat, berlari, berputar dan menghujamkan sebilah pedang. Seperkasa apapun Mush'ab, ia tetaplah sendirian. Ujung mata tombak itu menembus dadanya. Mush'ab jatuh direngkuh pepasir Uhud.
Jasad pemberani Mush'ab terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah, seolah-olah wajahnya tak berani melihat bencana yang kan menimpa sosok yang teramat dicintanya atau mungkin karena ia malu mati terlebih dahulu sebelum memastikan keselamatan raga nabinya. Allah yang maha Mengetahui.
Sungguh saat itu Al-Musthafa berdiri tegak di samping tubuh yang telah sunyi. Wajah rembulan Rasulullah berkabut. Ke dua kelopak matanya terselubungi bening cinta untuk sang duta pertama. Ada luruh air mata dan untaian senandung ketulusan untuk Mush'ab yang kini pergi. Sejenak, Rasul Allah terdiam, namun tak seberapa lama, dari bibir semanis madu itu terungkap sekuntum firman Allah,
"Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur..." (QS 33: 23).
Uhud senyap, banyak jasad yang tak lagi sempurna. Di sana Mush'ab bin Umair menyambut syahidnya. Wajah yang mempesona sebelumnya itu kini berdarah-darah. Tubuh tegap yang dulu selalu berpakaian indah dan jelita, sekarang hanya berbalut kain lusuh yang tak lagi utuh. Ada banyak luka di sana, hunjaman tombak, sayatan pedang, tusukan anak panah. Ke dua tangan pemegang panji kebanggaan Islam tak lagi ada, tangannya begitu sempurna dibabat pongah pedang para kafir Quraisy. Dan rambut Mush'ab, rambut kebanggaan yang dahulu selalu wangi misk dan hitam berkilat itu kini hanya terlihat masai. Rasulullah mengenang pemuda tampan kebanggaannya. Pemuda cerdas duta pertamanya.
Di ujung hening, kesedihan kaum Muslim begitu memulun. Pepasir bukit Uhud, merengkuh begitu banyak para syuhada. Al-Musthafa termenung, ia berjalan perlahan melewati para pemberani yang kini telah disambut para bidadari. Detik itu terpetik sebuah sabda indah untuk mereka yang telah melangkah di jalan Allah, sebuah jaminan pasti untuk mereka,
"Rasulullah akan menjadi saksi dihari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah."
Dan selanjutnya kekasih Allah memanggil semua sahabat yang masih hidup untuk sejenak berkumpul. Banyak kepala tertunduk menatap pepasir uhud yang kini berujud merah. Pandangan mereka mengabur karena tersaput selaput basah yang begitu mudah hadir. Sesak dada mereka atas banyak kepergian. Sementara dengan agung, Sang Tercinta melantunkan sebuah alunan permintaan,
"Hai manusia, ziarahilah mereka, datangilah mereka dan ucapkanlah salam. Demi Allah, tidak seorang muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka kecuali mereka membalasnya."
Aduhai Mush'ab bin Umair, salam cinta kami untuk engkau. Keberkahan untukmu Mush'ab yang baik. Kedamaian juga untuk engkau, wahai pencinta Al-Musthafa. Sejahtera atas engkau, wahai Sang Duta pertama. Kami sampaikan salam, semoga engkau mulia di sisi Nya. Amin.
***
Husnul Mubarikah
untuk seseorang yang berkata, "Bunda, rindu ini melangit lagi".
Karena cinta dia rela menghadapi bertubi derita
Cinta merebut dirimu dengan pengorbanan jiwa
Kan kutebus pula dengan sesuatu diatas jiwa
(Ekspresi cinta para sahabat untuk Al-Musthafa, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
eramuslim - Ia, bagaikan mawar di rerimbunan suku Quraisy. Wajahnya tampan, begitu masyhur di udara Makkah. Cemerlang pemikirannya bukan lagi rahasia, ia sosok cerdas yang menjadi kebanggaan. Tak sampai di situ, ia anak dari seorang bangsawan dengan gemerlap kekayaan. Sejarah menorehkan anugerah panggilan terhadapnya "Penduduk Makkah yang sangat mempesona". Ia tumbuh menjadi anak kesayangan sang ibunda, anak manja begitu para karibnya menyebut sang pemuda. Namun, apakah mungkin jika selanjutnya kisah kehidupan sang pemuda menjadi sebuah legenda keimanan yang begitu agung gaungnya? Allah sebaik-baik penentu lika-liku kehidupan seseorang. Mush'ab bin Umair.
***
Bukit Shafa, Makkah, senja hari.
Mush'ab gelisah menyusuri setapak jalanan. Sesekali ia menengok kiri dan kanan, memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Sampai di rumah Arqam bin Arqam, ia berhenti. Sudah dibulatkan tekadnya untuk menjumpai seseorang yang kelak akan dicinta sampai nafas terhembus dari raga. Perlahan Mush'ab membuka pintu, dan di sana telah duduk sosok yang selama ini hanya mampu ia dengar. Ruangan begitu hening, sementara gemerisik pepasir sahara terdengar mengalun dihantarkan angin. Sesaat kemudian Mush'ab terpaku, lantunan syair syahdu yang begitu indah menyapa merdu gendang telinganya. Mush'ab terbuai, hatinya melembut. Sejenak, Mush'ab serasa mengangkasa, terpesona. "Apakah itu, duhai Muhammad?" tanya Mush'ab setelah bibir manis Rasulullah tak lagi bersuara. "Tadi, adalah Al-Qur'an, firman Allah yang maha benar." "Ya Muhammad, bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam agama yang tengah engkau bawa?"
Saat itu betapa berbunga hati manusia pembawa cahaya pada dunia. Pertanyaan yang dilontarkan Mush'ab begitu menggembirakan Al-Musthafa. Akan bertambah pengikutnya satu kepala. Senyuman sang Penerang mengembang, dengan mantap ia bertutur, "Bersaksilah bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah benar utusanNya."
Dan beberapa pasang mata menyaksikan sumpah setia sang pemuda berparas jelita. Mush'ab bersyahadat. Mush'ab nampak berbeda, sebuah keharuan menjelma. Dadanya turun naik, Nabi bersegera menujunya. Tangan Al-Musthafa terulur ke dada Mush'ab, meredam gejolak cinta yang kian berdentang. Dan ajaib lubuk hatinya kini damai. Keduanya kini berpandangan disaksikan langit yang juga bersuka cita. Mush'ab bin Umair, pemuda gagah keturunan seorang bangsawan Quraisy kini sempurna menjadi seorang muslim.
Sejarah mengisahkan betapa Al-Amin mempercayakan kepadanya sebuah emban. Mush'ab dipilih menjadi seorang utusan. Seorang duta pertama dalam Islam. Ada amanah indah yang harus segera ia tunaikan. Tugasnya mengajarkan tentang Islam kepada kaum Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di Aqabah. Sebuah misi yang tentu saja tidak mudah. Saat itu telah 12 orang kaum Anshar yang beriman.
Mush'ab juga mengemban misi yang lain yaitu mengajak kabilah lain untuk masuk Islam dan mempersiapkan penyambutan hijrah Rasulullah. Ia sungguh tahu betapa berat amanah itu ditanggung. Namun, titah ini terucap dari bibir manis manusia yang ia cinta, yang dipercayainya dan telah melimpahi hatinya cahaya terang benderang. Berbekal cinta, ia menjadi seorang duta kekasihnya, ke Yastrib.
***
Mush'ab memang pemuda kebanggaan, ia berhasil merengkuh hati para penduduk Madinah. Sifat yang ditampakkannya, kejujuran, kezuhudan dan ketulusan telah mengikat banyak perhatian. Ia begitu memahami tugasnya dengan baik. Ia datangi kabilah-kabilah yang bertebaran di Madinah. Setiap rumah, tempat pertemuan, penduduk laki-laki, perempuan, tak luput dari seru syahdu sang Pemuda. Namun tentu bukan tidak ada rintang.
Tak lama berselang, Allah yang Maha Akbar memperlihatkan hasil sebuah usaha sungguh-sungguh Mush'ab bin Umair. Berduyun-duyun manusia berikrar mengesakan Allah dan mengakui Rasulullah sebagai utusan Allah. Jika saat ia pergi ada 12 orang golongan kaum Anshar yang beriman, maka pada musim haji selanjutnya umat muslim Madinah mengirim perwakilan sebanyak 70 orang laki-laki dan 2 orang perempuan ke Makkah untuk menjumpai Nabi yang Ummi. Madinah semarak dengan cahaya.
Duta pertama pilihan Al-Musthafa sukses tanpa tandingan. Sungguh sebuah keberhasilan yang gemilang.
Di Madinah, sebuah persembahan cinta disematkan untuk Mush'ab bin Umair, karena jasa tak terbilangnya sebagai duta. Dari bibir para penduduk Madinah, setiap guru agama akan disapa sebagai "Al-Mush'ab" bukan lagi al-Ustadz.
***
Kemilau kehidupan Mush'ab berakhir di sebuah bukit. Akhir kehidupannya menjelma semerbak kisah yang menjadi pelengkap sejarah kebanggaan kaum Muslimin. Siapkan hatimu, dan petik banyak hikmah, agar engkau meneladani ekspresi kecintaannya kepada Nabi. Inilah kisah kepergiannya:
Bukit Uhud dalam kecamuk perang.
Mush'ab tampil pemberani di sana. Ketika pasukan muslim lengah dan tercerai berai, dan Rasulullah menjadi sasaran setiap kepala pasukan Quraisy, Mush'ab menjelma sebenar-benar pencinta. Ia mengangkat panji itu setinggi-tingginya dan menggemakan takbir ke jauh angkasa. Tujuannya satu, para kafir itu beralih kepada dirinya. Ia memberi isyarat kepada Rasulullah untuk segera pergi. Mush'ab mengerahkan utuh tenaganya. Melompat, berlari, berputar dan menghujamkan sebilah pedang. Seperkasa apapun Mush'ab, ia tetaplah sendirian. Ujung mata tombak itu menembus dadanya. Mush'ab jatuh direngkuh pepasir Uhud.
Jasad pemberani Mush'ab terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah, seolah-olah wajahnya tak berani melihat bencana yang kan menimpa sosok yang teramat dicintanya atau mungkin karena ia malu mati terlebih dahulu sebelum memastikan keselamatan raga nabinya. Allah yang maha Mengetahui.
Sungguh saat itu Al-Musthafa berdiri tegak di samping tubuh yang telah sunyi. Wajah rembulan Rasulullah berkabut. Ke dua kelopak matanya terselubungi bening cinta untuk sang duta pertama. Ada luruh air mata dan untaian senandung ketulusan untuk Mush'ab yang kini pergi. Sejenak, Rasul Allah terdiam, namun tak seberapa lama, dari bibir semanis madu itu terungkap sekuntum firman Allah,
"Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur..." (QS 33: 23).
Uhud senyap, banyak jasad yang tak lagi sempurna. Di sana Mush'ab bin Umair menyambut syahidnya. Wajah yang mempesona sebelumnya itu kini berdarah-darah. Tubuh tegap yang dulu selalu berpakaian indah dan jelita, sekarang hanya berbalut kain lusuh yang tak lagi utuh. Ada banyak luka di sana, hunjaman tombak, sayatan pedang, tusukan anak panah. Ke dua tangan pemegang panji kebanggaan Islam tak lagi ada, tangannya begitu sempurna dibabat pongah pedang para kafir Quraisy. Dan rambut Mush'ab, rambut kebanggaan yang dahulu selalu wangi misk dan hitam berkilat itu kini hanya terlihat masai. Rasulullah mengenang pemuda tampan kebanggaannya. Pemuda cerdas duta pertamanya.
Di ujung hening, kesedihan kaum Muslim begitu memulun. Pepasir bukit Uhud, merengkuh begitu banyak para syuhada. Al-Musthafa termenung, ia berjalan perlahan melewati para pemberani yang kini telah disambut para bidadari. Detik itu terpetik sebuah sabda indah untuk mereka yang telah melangkah di jalan Allah, sebuah jaminan pasti untuk mereka,
"Rasulullah akan menjadi saksi dihari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah."
Dan selanjutnya kekasih Allah memanggil semua sahabat yang masih hidup untuk sejenak berkumpul. Banyak kepala tertunduk menatap pepasir uhud yang kini berujud merah. Pandangan mereka mengabur karena tersaput selaput basah yang begitu mudah hadir. Sesak dada mereka atas banyak kepergian. Sementara dengan agung, Sang Tercinta melantunkan sebuah alunan permintaan,
"Hai manusia, ziarahilah mereka, datangilah mereka dan ucapkanlah salam. Demi Allah, tidak seorang muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka kecuali mereka membalasnya."
Aduhai Mush'ab bin Umair, salam cinta kami untuk engkau. Keberkahan untukmu Mush'ab yang baik. Kedamaian juga untuk engkau, wahai pencinta Al-Musthafa. Sejahtera atas engkau, wahai Sang Duta pertama. Kami sampaikan salam, semoga engkau mulia di sisi Nya. Amin.
***
Husnul Mubarikah
untuk seseorang yang berkata, "Bunda, rindu ini melangit lagi".
Langganan:
Postingan (Atom)